Minggu, 18 Desember 2011

EMPAT SYARAT MENDAPAT PETUNJUK ALLAH SWT

Orang yang tidak mendapat petunjuk Allah Swt adalah orang yang sangat celaka, karena tidak akan bisa membedakan mana yang haq dan batil. Ada manusia yang memang tidak mau atau tidak antusias menerima petunjuk, dan tentunya Allah Swt tidak mau memberikan petunjuk kepada manusia golongan ini.

Kita sebagai umat muslim harus selalu berusaha meraih hidayah dari Allah Swt, karena manusia akan berada dalam keselamatan dunia dan akherat bila selalu dalam petunjuk Allah Swt.

Dalam Hadist, Nabi Muhammad Saw bersabda "Barangsiapa diuji lalu sabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu istighfar, maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang yang memperoleh petunjuk" (HR Baihaqi)

Ada empat hal yang membuat manusia mendapat petunjuk Allah Swt yaitu:

1. Sabar Dalam Ujian.
Dalam menghadapi segala ujian, cobaan atau masalah hidup seseorang harus bersabar. Setiap manusia pasti akan diuji oleh Allah Swt.
Dalam Surat Al Baqarah: 155 Allah Swt berfirman :
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar"

2. Syukur Dalam Pemberian.
Apabila kita mendapatkan kenikmatan dari Allah Swt kita harus mensyukurinya.
Firman Allah Swt dalam Surat Ibrahim: 7:
" Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat Ku), maka pasti azab Ku sangat berat".

3. Memaafkan Orang Yang Menzalimi.
Apabila kita diperlakukan secara zalim, memaafkannya akan lebih baik.
Dalam Surat Al A'raaf: 199 Allah berfirman:
"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh"

4. Tobat Atas Kezaliman
Pelaku kezaliman harus segera bertobat dari dosanya, karena kezaliman merupakan sesuatu yang sangat merugikan orang lain dan diri sendiri. Allah Swt sangat mencintai orang yang mau bertobat.
Allah Swt berfirman dalam Surat Al Baqarah :222 yang bunyinya:
"Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang mensucikan diri"
( Sumber: 160 Materi Dakwah Pilihan;Drs.H.Ahmad Yani)


Rabu, 13 Oktober 2010

Membina pribadi

Kita sebagai umat muslim marilah selalu membina pribadi kita sendiri kearah yang lebih baik. Tentunya kita selalu mengharapkan agar supaya tak ada yang membatasi diri kita dengan Allah Swt sehingga segala munajat kita selalu didengar Nya. Kita perlu memperbaiki sifat terpuji yang bernilai tinggi yang dapat membawa kepada ketinggian budi pekerti dan akhlak dan merupakan kekuatan yang dapat menolong untuk berkemauan keras, berjiwa besar dan bertanggung jawab.
1. Perbaikan Akhlak
Tujuan perbaikan akhlak adalah membersihkan qalbu dari kotoran hawa nafsu dan amarah hingga hati menjadi suci bersih bagaikan cermain yang dapat menerima nur cahaya Tuhan, seperti yang disampaikan oleh Al-Ghazali.
Dalam S. Al-Kahfi:110 menyebutkan Maka barang siapa mengaharap perjumpaan dengan Tuhannya hendaknya ia mengerjakan amal saleh (memperbaiki aakhlak) dan janganlah ia mempersekutukan apapun dalam beribadat kepada tuhan (bersih dari segala hawa nafsu).

2. Sabar.
Jadikanlah sabar dan Salat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu adalah tugas berat kecuali bagi orang yang khusyu (S. Al Baqarah : 45-46).
Bersabarlah kamu sekalian, sesungguhnya Allah beserta mereka yang sabar ( S. Al-Anfal: 46).
Sabar adalah meninggalkan segala macam pekerjaan yang digerakkan oleh hawa nafsu, tetap pada pendidrian agama yang bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semata-mata kerena menghendaki kebahagiaan dunia dan akherat. (Al-Ghazali).

3. Syukur.
Berterima kasih kepada Allah atas segala nikmat pemberianNya.
Syukur adalah keadaan seseorang mempergunakan nikmat yang diberikan oleh Allah itu hanya untuk membuat kebajikan.

4. Ridha
Rela menerima dengan apa yang ditentuka dan ditaqdirkan Allah kepadanya. Rela berjuang atas jalan Allah mencari semata-mata keridhaan Allah.

Disamping itu kita harus meninggalkan sifat-sifat yang dapat mengotori jiwa/hati. yang anatara lain adalah:
- Hasad - irihati
- Haqad - dengki/benci
- Suuz-zan - buruk sangka
- Kibir - sombong
- Ujub - merasa sempurna diri dari orang lain
- Riya - mempamerkan kelebihan diri
- Suma' cari nama atau kemasyuuran
- Bukhul - bakhil / kikir
- Hubbul Mal - cinta kebendaan
- Tafahur - membanggakan diri
- Ghadab - pemarah
- Ghibah - pengumpat
- Namimah - bicara belakang orang
- Kizib - dusta.

Senin, 02 Agustus 2010

Kezaliman

Sekarang ini begitu banyak orang yang melakukan kezaliman terhadap orang lain demi memburu kebahagiaan dengan mengumpulkan harta dan menggapai kedudukan serta pekerjaan. Apa itu sebenarnya zalim (dholim), yang dapat diartikan menempatkan sesuatu/perkara bukan pada tempatnya. Lawan zalim adalah adil. Kata zalim berasal dari bahasa Arab yang yang bermaksud gelap. Kata zalim ini bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tak berperikemanusiaan, suka melihat orang lain dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, ketidakadilan. Sifat-sifat zalim ini merupakan sifat yang keji dan hina dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.
Kezaliman itu ada 3 kategori:
1. Zalim kepada Allah
2. Zalim kepada diri sendiri
3. Zalim kepada orang lain
Allah telah mengatur kehidupan didunia dengan firman-firman Nya di dalam Al Quran. Kita sebagai umat Islam haruslah selalu mengikuti aturan-aturan dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah demi keselamatan dunia dan akherat. Apa yang marak sekarang ini adalah perbuatan korup yang juga merupakan kezaliman, karena korupsi mengakibatkan hak-hak orang lain diambil secara paksa dan tidak sah. Banyak orang menjadi korban atas tindakan ini karena uang negara yang dikorup tersebut seharusnya digunakan untuk kesejahteraan orang banyak melalui berbagai bentuk misalnya pendidikan, sarana dan prasarana, dsb. Dan orang melakukannya akan mempertanggungjawabkan kelak di akherat.
Beberapa firman Allah di dalam Al Quran yang berkaitan denganKezaliman ini adalah :
1. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu masuk api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) )Q.S. An-Nisaa (4):10).
2. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim (Q.S Al Baqoroh (2) 229).
3. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (Q.S. Al Maidah (5):43).
4. Dan orang-orang yang zalim diantara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya, dan mereka tidak akan bisa melepaskan diri (Q.S. Azzumar (39):51).
Kalau kita menyimak ayat-ayat tersebut diatas betapa menakutkan sekali akibat-akibat dari perbuatan zalim tersebut. Sementara itu ada sabda-sabda Rasulullah yang menyebutkan tentang bahaya dari kezaliman tersebut yaitu;
1. Jauhilah kezaliman, sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu, mereka saling membunuh dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan. (HR. Bukhari)
2. Barangsiapa berjalan bersama seorang yang zalim untuk membantunya dan dia mengetahui bahwa orang itu zalim maka dia telah ke luar dari agama Islam. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)3. Do'anya seorang yang dizalimi terkabul meskipun dia orang jahat dan kejahatannya menimpa dirinya sendiri. (HR. Ahmad)
4. Waspadalah terhadap do'a orang yang dizalimi. Sesungguhnya antara dia dengan Allah tidak ada tabir penyekat. (HR. Mashabih Assunnah)
5. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menangguhkan azabnya terhadap orang zalim dan bila mengazabnya tidak akan luput. Kemudian Rasulullah membacakan doa dalam surat Hud ayat 102: "Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras." (HR. Muslim)
6. Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi): "Dengan keperkasaan dan keagunganKu, Aku akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. Aku akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya." (HR. Ahmad)
7. Kebaikan yang paling cepat mendapat ganjaran ialah kebajikan dan menyambung hubungan kekeluargaan, dan kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman ialah kezaliman dan pemutusan hubungan kekeluargaan. (HR. Ibnu Majah)
8. Bila orang-orang melihat seorang yang zalim tapi mereka tidak mencegahnya dikhawatirkan Allah akan menimpakan hukuman terhadap mereka semua. (HR. Abu Dawud)
9. Barangsiapa menzalimi orang lain terhadap sejengkal lahan maka kelak dia akan dililit dengan tujuh bumi. (HR. Bukhari dan Muslim).

Selasa, 13 Juli 2010

Pemimpin

Dalam setiap organisasi pasti dipimpin oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin akan memimpin anggota-anggotanya dalam organisasi tersebut. Pemimpin mempunyai fungsi memipin anggotanya melaksanakan pekerjaaannya dalam mencapai tujuan organisasi tersebut. Oleh karena itu seorang pemimpin harus mempunyai ciri kepemimpinan yang salah satunya adalah kemampuan untuk memberikan pengarahan kepada orang lain dan memfokuskan energi yang pada tujuan spesifik sementara mempertahankan semangat yang tinggi di dalam kelompok.
Seorang pemimpin juga harus mempunyai empati, yaitu kekuatan untuk masuk ke dalam perasaan atau semangat orang lain, bagaimana untuk bisa mengerti apa yang orang lain pikirkan dan bagaimana perasaan mereka. Seorang pemimpin yang efektif harus mau mendengarkan orang lain, mendengarkan keluhan-keluhan mereka, ide-ide mereka, advis, dan nasehat mereka. Bersikap terbuka terhadap apa yang orang lain katakan. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh adalah satu-satunya cara dapat mengerti apa yang orang lain pikirkan dan rasakan.
Disamping itu seorang pemimpin harus memperlihatkan kepedulian akan kebutuhan, aspirasi dan perasaan kelompok. Seorang pemimpin harus merasa peduli kepada orang yang dipimpin dan tiap individu di dalam kelompok. Tanpa kaitan ini seorang pemimpin tidak dapat mengkomunikasikan kebutuhan, aspirasi dan perasaan kelompok. Selanjutnya sorang pemimpin harus memperlihatkan respek kepada orang lain di dalam kelompoknya. Tanpa respek orang mungkin menuruti apa yang diperintahkan, patuh dan tunduk, namun mereka tidak akan memiliki komitmen pada pemimpin atau pada apa yang harus dikerjakan. Tanpa komitmen tidak ada loyalitas, tanpa loyalitas tidak ada kepemimpinan. Kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhan, aspirasi dan perasaan kelompok baik ke dalam maupun keluar kelompok perlu dimiliki oleh seorang pemimpin.
Itulah sebagian gambaran bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam organisasi. Namun menjadi seorang pemimpin sejati tidaklah mudah. Apalagi hanya ingin jabatan pemimpin saja tanpa mempunyai ciri-ciri kepemimpinan (katanya ini bisa dipelajari), tanpa mau mengindahkan kaum yang dipimpinnya. Terkadang hanya ingin realisasi kegiatan segera tercapai dengan berbagai cara yang bahkan tidak peduli apakah sudah sejalan dengan tujuan yang sebenarnya yang telah digariskan.
Menjadi pemimpin seharusnya memiliki moral yang baik, sehingga bisa membawa manfaat bagi organisasi maupun kaum yang dipimpinnya kearah yang lebih baik. Dalam hadist Rasulullah menyebutkan bahwa pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka (HR Abu Ha'im). Sangatlah berat sebenarnya menjadi seorang pemimpin karena mempunyai tanggung jawab dan mengemban amanah serta harus bijaksana dalam memimpin kaumnnya. Dalam memberikan pengarahan dan petunjuk harus seia sekata baik dalam perbuatan maupun perkataannya. Janganlah membuat bingung anggota kelompoknya, janganlah ibaratnya pagi sore dalam memberikan perintah. Sabda Nabi Muhammad SAW menyebutkan "Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Diatas mimbar mereka memberikan petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari Bangkai (HR Athabrani)

Kamis, 06 Mei 2010

Sabar

Salah satu ciri orang bertaqwa adalah sabar. Sabar bisa diartikan tabah dan tangguh dalam menghadapi segala sesuatu. Menurut Imam Al- Ghazaly, sabar adalah kondisi mental yang terjadi karena dorongan ajaran agama dalam mengendalikan nafsu. Dalam kehidupan ini manusia pasti akan mengalami keadaan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, keadaan yang sesuai dengan yang diharapkan atau yang tidak diharapkan. Keadaan yang menyenangkan atau yang sesuai dengan yang diharapkan tidaklah menjadi masalah bagi yang seseorang. Namun apabila seseorang sedang mengalami kegagalan tidaklah jarang seseorang dilanda keputus asaan. Namun bagi orang yang beriman, atau orang yang mempunyai iman yang kuat akan sanggup menghadapi segala tantangan hidup. Meskipun sedih, duka nestapa dan menderita mereka tidak akan berputus asa. Memantabkan sifat sabar didalam hati memanglah sangat sukar, perlu latihan dan perlu dididik dari kecil. Menurut Prof. Dr. Yunasril Ali, MA dalam bukunya Pilar-Pilar Tasawuf menyebut hakekat sifat sabar yang sebenarnya ialah suatu sikap jiwa yang sanggup menerima segala sesuatu yang telah menjadi ketentuan Tuhan, dibarengi dengan upaya yang tangguh dalam menghadapinya. Seperti Nabi Ya'qub ketika kehilangan Yusuf anak kesayangannya, selalu berharap akan bisa bertemu kembali. Dalam Q.S Yusuf : 18 disebutkan Sabarlah yang lebih baik. dan kepada Allah lah tempat minta tolong. Dalam hadist Rasullulah juga disebutkan tentang kesabaran, antara lain;
"Sabar adalah separo iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan "(HR. Athabrani dan Al Baihaqi). "Sabar yang sebenarnya adalah sabar pada saat bermula tertimpa musibah" (HR. Al Bukhari). "Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seseorang hamba yang lebih luas baginya dari pada sabar" (HR. Al Hakim)

Selasa, 04 Mei 2010

Orang Mukmin

Terdapat hadist Rasulullah yang menggambarkan tentang orang mukmin;
- " Tidak ada orang yang lebih mulia di sisi Allah dari seorang mukmin" (HR. Athabrani).
- " Barangsiapa menyenangi amalan kebaikannya dan menyedihkan (bersedih dengan) keburukkannya maka dia adalah seorang mukmin" (HR. Al Hakim).
- " Orang yang shaleh selalu mendapat tekanan-tekanan. (HR. Al Hakim)
- "Allah Azza wajalla mewajibkan tujuh hak kepada seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, yaitu (1) melihat saudara seimannya dengan rasa hormat dalam pandangan matanya; (2) mencintainya di dalam hatinya; (3) menyantuninya dengan hartanya; (4) tidak menngunjingnya atau mendengar pergunjingan terhadap kawannya; (5) menjenguknya bila sakit; (6) melayat jenazahnya; (7) dan tidak menyebut kecuali kebaikannya sesudah ia wafat" (HR. Ibnu Baabawih).
- "Seorang mukmin bukanlah pengumpat dan suka mengutuk, yang keji dan ucapannya kotor" (HR. Bukhari)